Minggu, 17 Juli 2016
Jika Bukan Kau. Untuk Apa Ku Berjuang?
Minggu, 03 Juli 2016
Tragedi Malam.
Jadi ingat kegalauan Awahir waktu dia masih kelas dua Aliyah. Kalau galaunya sendiri dan bikin sesuatu yang bermanfaat sih boleh-boleh aja. Tapi ini sudah kelewatan, dua kursi dan dua buah tas miliknya dan temannya sendiri jadi korban "pelampiasannya".

Semua itu berawal ketika Awahir sedang dekat dengan seseorang wanita dari sekolah lain. Awalnya ada teman Awahir yang ngenalin dia dengan wanita yang ku tahu namanya Saidah itu. Mereka berdua berhubungan baru satu bulan dan Awahir sangat tergila-gila dengan kebaikan wanita itu. Dan belakangan, Awahir tahu bahwa minggu depan Saidah akan ulang tahun. Segala sesuatu dipersiapkan Awahir untuk membuat Saidah terkesan dan mau jadi pacarnya. Mulai dari pinjem kamera Ufik dan pinjem uang dari Iwan telah dia lakukan.
Pulang sekolah Awahir langsung membawa kamera Ufik untuk memfoto Saidah yang baru pulang sekolah. Dengan menggunakan menu yang ada di kamera, Awahir mengambil foto Saidah dengan kecepatan tinggi seolah-oleh mau merekam vidio. Hasil fotonya tersebut, langsung dia cetak menggunakan uang yang dia pinjam dari Iwan.
"Dil, liat gimana hasil kreativitasku?" tanya Awahir padaku sambil membawa kumpulan foto yang telah dia cetak.
"wah....." kataku karkejut. Hasilnya memang sangat bagus. Gambar Saidah yang ada didalam foto seolah-olah bergerak seperti Animasi.
"do'ain ya Dil, aku malam ini jam dua belas malam mau ngasih kado ini buat Saidah dari depan rumahnya." kata Awahir penuh semangat.
"iya, aku do'ain deh. Moga-moga kamu sukses sama Saidah"
Pagi harinya mata Awahir bengkak karena terlalau sering menangis. Isi tas dan kado yang dia siapkan kemaren juga berhamburan. Jam pelajaran pertama hari itu hanya dihabiskan untuk memperbaiki meja dan kursi yang letaknya berhamburan gara-gara galaunya Awahir.
Ufik dan Iwan berhasil menangkap badan Awahir, sedangkan aku ngambil air untuk selanjutnya ku eluskan ke wajahnya. Kemarahan Awahir sudah mulai mereda dan dia meminta izin untuk pulang kerumah bersamaku.
Diperjalanan menuju rumah, Awahir mulai bercerita padaku tantang kejadian tadi malam didepan rumah Saidah. "Jam dua belas malam kurang 5 menit aku sampai di depan rumah Saidah sambil mambawa semua persiapan untuk membuat kejutan untuknya. Tapi ternyata yang aku lihat, Saidah sudah bersama laki-laki didepan rumahnya. Laki-laki itu telah membuat lilin berbentuk LOVE dan mereka berdua berada ditengah-tengah lilin itu. Dan yang paling membuat aku terkejut, ternyata mereka sudah tunangan."
Air mata Awahir kembali menetes seiring perjalannannya menuju rumah. Sungguh berat tugas seorang laki-laki yang ingin mencari kebahagiaan atas kebahagiaan orang lain.
Galau itu bukan alasan untuk berbuat keburukan. :)
Semua itu berawal ketika Awahir sedang dekat dengan seseorang wanita dari sekolah lain. Awalnya ada teman Awahir yang ngenalin dia dengan wanita yang ku tahu namanya Saidah itu. Mereka berdua berhubungan baru satu bulan dan Awahir sangat tergila-gila dengan kebaikan wanita itu. Dan belakangan, Awahir tahu bahwa minggu depan Saidah akan ulang tahun. Segala sesuatu dipersiapkan Awahir untuk membuat Saidah terkesan dan mau jadi pacarnya. Mulai dari pinjem kamera Ufik dan pinjem uang dari Iwan telah dia lakukan.
Pulang sekolah Awahir langsung membawa kamera Ufik untuk memfoto Saidah yang baru pulang sekolah. Dengan menggunakan menu yang ada di kamera, Awahir mengambil foto Saidah dengan kecepatan tinggi seolah-oleh mau merekam vidio. Hasil fotonya tersebut, langsung dia cetak menggunakan uang yang dia pinjam dari Iwan.
"Dil, liat gimana hasil kreativitasku?" tanya Awahir padaku sambil membawa kumpulan foto yang telah dia cetak.
"wah....." kataku karkejut. Hasilnya memang sangat bagus. Gambar Saidah yang ada didalam foto seolah-olah bergerak seperti Animasi.
"do'ain ya Dil, aku malam ini jam dua belas malam mau ngasih kado ini buat Saidah dari depan rumahnya." kata Awahir penuh semangat.
"iya, aku do'ain deh. Moga-moga kamu sukses sama Saidah"
Pagi harinya mata Awahir bengkak karena terlalau sering menangis. Isi tas dan kado yang dia siapkan kemaren juga berhamburan. Jam pelajaran pertama hari itu hanya dihabiskan untuk memperbaiki meja dan kursi yang letaknya berhamburan gara-gara galaunya Awahir.
Ufik dan Iwan berhasil menangkap badan Awahir, sedangkan aku ngambil air untuk selanjutnya ku eluskan ke wajahnya. Kemarahan Awahir sudah mulai mereda dan dia meminta izin untuk pulang kerumah bersamaku.
Diperjalanan menuju rumah, Awahir mulai bercerita padaku tantang kejadian tadi malam didepan rumah Saidah. "Jam dua belas malam kurang 5 menit aku sampai di depan rumah Saidah sambil mambawa semua persiapan untuk membuat kejutan untuknya. Tapi ternyata yang aku lihat, Saidah sudah bersama laki-laki didepan rumahnya. Laki-laki itu telah membuat lilin berbentuk LOVE dan mereka berdua berada ditengah-tengah lilin itu. Dan yang paling membuat aku terkejut, ternyata mereka sudah tunangan."
Air mata Awahir kembali menetes seiring perjalannannya menuju rumah. Sungguh berat tugas seorang laki-laki yang ingin mencari kebahagiaan atas kebahagiaan orang lain.
Galau itu bukan alasan untuk berbuat keburukan. :)
Minggu, 26 Juni 2016
Niysa dan Rafa
Niysa terbaring dirumah sakit tidak
sadarkan diri. Air mata bercucuran dari mata prihatin yang berada disekitar
tempatnya berbaring itu. Terutama air mata dari seorang teman laki-laki yang
sudah dari dulu sangat mengenal Niysa.
Rafa, itulah nama laki-laki baik itu. Laki-laki
yang selalu dibacakan sholawat oleh Niysa diwaktu senggang. Laki-laki yang
sangat mengenal kepribadian Niysa. Laki-laki yang kelak disebut ‘abi’ dalam
rumah tangga bersama Niysa. Dan dia juga lah laki-laki yang lebih mencintai
Allah daripada Niysa.
Kejadian itu tiba-tiba saja terjadi. Niysa mengeluh
sakit kepala dan akhirnya koma sampai sekarang. Hasil pemeriksaan dokter
menyebutkan bahwa ada Ensefalitis atau peradangan otak dikepala Niysa yang
dapat mengakibatkan amnesia retrograde ketika dia sadar.
Itu artinya Niysa akan lupa dengan laki-laki
baik bernama Rafa itu.
Mengetahui bahwa Niysa akan mengalami amnesia
ketika sadar. Rafa menulis sebuah surat yang isinya....
Kalau kamu amnesia, aku hanya ingin kamu
mengingat 3 hal: Pertama, Ingatlah Tuhanmu sebagaimana Dia yang telah
menciptakan, dan Utusannya untuk membimbing kita.
Kedua, ingatlah Ibumu sebagaimana dia telah
mengandung sejak buaian hingga kamu besar saat ini dan juga Ayahmu yang banting
tulang hanya untuk kamu dan ibumu.
Ketiga, aku ingin kamu ingat dirimu sendiri
dimana kamu yang membantuku untuk menuju kejalan yang lebih baik dan benar. Dan
aku berterimakasih untuk 3 hal tersebut, karena telah ditemukannya dirimu
kembali.
RAFA
Bersambung.....
Penasaran ya..?? sabar.. :)
Langganan:
Postingan (Atom)