Senin, 18 September 2017

Siap-siap 3

Perjalanan Awahir bersama sepedanya terus berlanjut. Matahari yang selama perjalanan menjadi musuhnya mulai bersembunyi ke arah barat. Sinarnya yang berwarna oranye gelap membuat siapa saja akan yang melihatnya akan terkesima. Namun Awahir tidak terkesima karena perutnya yang sudah lapar.

Dikantong Awahir ada uang 10 ribu. Dilihatnya banyak penjual nasi goreng dipinggir-pinggir jalan. Ada yang sepi dan ada juga yang banyak orangnya, ada yang pakai tulisan harga ada juga yang tidak. Ada satu tempat makan yang membuat Awahir tertarik bertulisan 'Galuh-galuhan'. Awahir putuskan untuk masuk kehalaman tempat makan itu dan memarkirkan sepedanya.

"Parkir sepedanya ke sana Mas." kata sang satpam sambil menunjuk ke arah pos tempat dia jaga. Awahir mengikuti arahan si satpam. 'Ternyata ditempat ini parkir sepeda sangat ekslusif, dekat dengan sang satpam.' pikir Awahir.

Awahir masuk kedalam tempat makan.

"Selamat datang." Suara merdu menyambut langkah kaki Awahir. Dan dia langsung di arahkan ketempat duduk. Diatas meja tempat duduk, Awahir mulai membalik-balik buku menu yang sudah disediakan disana. Gambar makanan dibuku itu sanagat membuat Awahir tertaik. Namun ada yang membuat dia bingung, yaitu angka-angka harga yang dilanjutkan dengan hurup 'K'. Awahir pun memanggil orang yang mengantarnya ketempat duduk tadi.

"'K' ini apa ya Emba? Mata uang baru ya?" kata Awahir polos. "Saya punya uang segini kira-kira bisa dapat berapa 'K'" Awahir mengeluarkan uang 10 ribu yang dia punya.

Si Emba nya ketawa dan bilang "Kalau gak punya uang jangan datang kesini Mas."

Mendapat jawaban seperti itu, Awahir membuka kembali buku menu dan berkata dengan santai. ''Emba, saya mau pesan Nasi Timbel Polosnya satu.''

Makanan yang bernama Nasi Timbel Polos pun datang. Besarnya kira-kira seperti batu bartai yang berukuran besar, bentuknya lonjong, berbungkus daun pisang. Kalau orang Hulu Sungai bilang mirip Lampar dan disajikan diatas piring putih, mewah. Nampak sekali bahwa makanan ini kesepian dan memang benar-benar polos.

Alasan kenapa Awahir memilih Nasi Timbal Polos itu adalah karena didalam buku menu yang dia lihat, hanya Nasi Timbal Polos lah yang harganya dibawah 10 ribu, yaitu 7 K. Karena perut Awahir sudah keroncongan, makanan itu langsung saja dia makan. Walau perutnya tidak kenyang, paling tidak kalau ditanya 'apakah dia sudah makan atau belum?' dia akan menjawab 'sudah'.

Hari sudah malam ketika Awahir keluar dari tempat makan dan melanjutkan perjalanan. Dia melihat lampu warung-warung dipinggir jalan yang sudah menyala, dia menyesal. 'pasti aku akan lebih kenyang kalau makan disana'. Tapi apa daya, uang tinggal 3 ribu.

Selain melihat lampu warung yang sudah menyala, Awahir juga melihat lampu-lampu yang melilit pohon-pohon dipinggir jalan. Muncul pertanyaan dalam dirinya. 'Kenapa pohon dikota diberi lampu untuk penerangan, sementara banyak desa-desa yang gelap dan bahkan listerik pun belum masuk? Mana letak keadilan sosialnya? Mengapa hanya ada Sial?'. Pertanyaan ini terlalu sulit untuk Awahir jawab sendiri.

Kamis, 14 September 2017

Siap-Siap 2

Tenaga Awahir telah pulih. Dengan tergesa-gesa dikayuhnya kembali sepedanya. Namun tetap terasa lambat, karena ada benda lain yang selalu mendahuluinya silih berganti.

"gubrak...." Bunyi remuk terdengar dari sepeda motor yang baru saja mendahuluinya. Anak kucing terlempar kesemak-semak disamping jalan. Tanpa merasa bersalah sedikitpun pengendara sepeda motor itu tetap melaju dengan cueknya.

"hey.." Awahir yang melihat kejadian itu berteriak sekuat tenaga. Namun suara Awahir sepertinya tidak ditanggapi karena sang pengendara ketakutan untuk bertanggung jawab atau sepertinya suara Awahir kalah dengan suara bising dari kenalpotnya yang sudah dimodivikasi atau mungkin dia memang tuli dan buta untuk mengetahui sebuah kesalahan yang dia lakukan? Entahlah.

Awahir berhenti disamping semak-semak. Dilihatnya anak kucing itu sudah tidak bergerak lagi, bulu putih nya telah berubah menjadi merah.

Tidak jauh dari mayat si anak kucing, Awahir telah membuat lubang untuk menguburkan mayat si anak kucing.

Entah siapa yang salah dalam kejadian ini. Si anak kucing yang memang diciptakan tanpa dibekali akal. Atau si pengendara motor yang tidak tahu apa yang dia lakuakn. Atau mungkin dia hanya pura-pura tidak tahu? Entahlah.

Tapi yang Awahir tahu dan Awahir pahami. Mayat anak kucing ini harus dikuburkan.
Entahlah...

Minggu, 03 September 2017

Siap-Siap.

Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi seseorang bertubuh tinggi, berbadan kurus dan berkepala botak. Awahir harus mengayuh sepedanya kedesa Aigahab. Matahari bersinar dengan bahagia dan awan terlalu takut untuk menunjukan lekuk tubuh putihnya.

Ditengah perjalanan Awahir telah mandi keringat. kepalanya yang botak seakan menjadi musuh bagi sang matahari. Dipinggir jalan dlihatnya ada pohon Beringin yang sangat besar dan rindang. Didalam pohon Beringin terlihat sebatang pohon yang sudah mati, sejenak Awahir berpikir 'apakah pohon Beringin termasuk benalu? Kenapa pohon itu mati disana, didalam pohon beringin? Dan mengapa gambar pohon Beringin menjadi lambang sila yang ke 3?' Pengetahuan Awahir tidak dapat menjawabnya.

Turun dari sepeda dan didekatinya pohon beringin itu, angin sejuk berhembus pelan seakan memadamkan kulit kepala awahir yang penuh dengan keringat. Disandarkannya tubuhnya kebatang pohon Beringin itu dan matanyapun tertutup perlahan. Ditariknya nafas perlahan dari hidung secara berulang-ulang, sejuk, tenang dan damai.

Mata Awahir terus tertutup. Sejenak dia membayangkan pandangan mata seseorang yang selalu menunduk, membayangkan senyumnya yang sangat jarang terlihat, dan mencoba membayangkan apa yang dilakukan wanita itu sekarang. Dia ingin sekali memanggil nama wanita itu dalam ketenangannya. Semakin ingin dia melakukan itu, entah mengapa semakin sedih hatinya.
Awahir membuka kedua matanya, berdiri, dan mengambil sepedanya. "aku harus bersiap-siap!!"...
Bersambung...