Perjalanan Awahir bersama sepedanya terus berlanjut. Matahari yang selama perjalanan menjadi musuhnya mulai bersembunyi ke arah barat. Sinarnya yang berwarna oranye gelap membuat siapa saja akan yang melihatnya akan terkesima. Namun Awahir tidak terkesima karena perutnya yang sudah lapar.
Dikantong Awahir ada uang 10 ribu. Dilihatnya banyak penjual nasi goreng dipinggir-pinggir jalan. Ada yang sepi dan ada juga yang banyak orangnya, ada yang pakai tulisan harga ada juga yang tidak. Ada satu tempat makan yang membuat Awahir tertarik bertulisan 'Galuh-galuhan'. Awahir putuskan untuk masuk kehalaman tempat makan itu dan memarkirkan sepedanya.
"Parkir sepedanya ke sana Mas." kata sang satpam sambil menunjuk ke arah pos tempat dia jaga. Awahir mengikuti arahan si satpam. 'Ternyata ditempat ini parkir sepeda sangat ekslusif, dekat dengan sang satpam.' pikir Awahir.
Awahir masuk kedalam tempat makan.
"Selamat datang." Suara merdu menyambut langkah kaki Awahir. Dan dia langsung di arahkan ketempat duduk. Diatas meja tempat duduk, Awahir mulai membalik-balik buku menu yang sudah disediakan disana. Gambar makanan dibuku itu sanagat membuat Awahir tertaik. Namun ada yang membuat dia bingung, yaitu angka-angka harga yang dilanjutkan dengan hurup 'K'. Awahir pun memanggil orang yang mengantarnya ketempat duduk tadi.
"'K' ini apa ya Emba? Mata uang baru ya?" kata Awahir polos. "Saya punya uang segini kira-kira bisa dapat berapa 'K'" Awahir mengeluarkan uang 10 ribu yang dia punya.
Si Emba nya ketawa dan bilang "Kalau gak punya uang jangan datang kesini Mas."
Mendapat jawaban seperti itu, Awahir membuka kembali buku menu dan berkata dengan santai. ''Emba, saya mau pesan Nasi Timbel Polosnya satu.''
Makanan yang bernama Nasi Timbel Polos pun datang. Besarnya kira-kira seperti batu bartai yang berukuran besar, bentuknya lonjong, berbungkus daun pisang. Kalau orang Hulu Sungai bilang mirip Lampar dan disajikan diatas piring putih, mewah. Nampak sekali bahwa makanan ini kesepian dan memang benar-benar polos.
Alasan kenapa Awahir memilih Nasi Timbal Polos itu adalah karena didalam buku menu yang dia lihat, hanya Nasi Timbal Polos lah yang harganya dibawah 10 ribu, yaitu 7 K. Karena perut Awahir sudah keroncongan, makanan itu langsung saja dia makan. Walau perutnya tidak kenyang, paling tidak kalau ditanya 'apakah dia sudah makan atau belum?' dia akan menjawab 'sudah'.
Hari sudah malam ketika Awahir keluar dari tempat makan dan melanjutkan perjalanan. Dia melihat lampu warung-warung dipinggir jalan yang sudah menyala, dia menyesal. 'pasti aku akan lebih kenyang kalau makan disana'. Tapi apa daya, uang tinggal 3 ribu.
Selain melihat lampu warung yang sudah menyala, Awahir juga melihat lampu-lampu yang melilit pohon-pohon dipinggir jalan. Muncul pertanyaan dalam dirinya. 'Kenapa pohon dikota diberi lampu untuk penerangan, sementara banyak desa-desa yang gelap dan bahkan listerik pun belum masuk? Mana letak keadilan sosialnya? Mengapa hanya ada Sial?'. Pertanyaan ini terlalu sulit untuk Awahir jawab sendiri.
