Minggu, 08 Januari 2017

Tahun Baru Bersama Suasana Baru, Dikota Barabai

Tahun baru dikota Barabai. Kampung halaman yang penuh damai. Disetiap pohon-pohon yang besarnya, adalah saksi setiap perubahan yang telah dicapai.

Seperti biasa aku dan sahabatku mengatur recana untuk pergi ke Lapangan DWIWARNA. Kerena disana akan dilaksanakan "Habsyi dan Shalawat Bersama" pada malam tahun baru.

"Kita pakai baju apa malam ini?" kata sahabatku memastikan pakaian.

"Dikondisikan dan sesuaikan rencana kita saja" jawabku.

"Ok. sip... nanti habis sholat Isya aku datang menjemput"

Maka berangkatlah kami malam itu. Dengan memakai peci putih, menggunakan gamis putih, kamipun berangkat menuju lapangan Dwiwarna yang penuh sesak dengan berjalan kaki.

Pemandangan yang sama ditahun-tahun sebelumnya adalah pasangan muda-mudi yang jalan-jalan. Ada yang bergandengan tangan sambil jalan kaki dan ada pula yang satu motor untuk berdua. Tiba-tiba tangan sahabatku menyenggolku.

"Dil, ada vokalis Kangen Band yang jalan-jalan sama Raisa" Kata Tsabit sambil memberi kode untuk melihat ke pasangan muda-mudi yang berjalan kaki disamping kami.

Si vokalis kangen band dengan rambut panjang menutupi muka, jaket kulit warna hitam, celana jeans warna biru, dan pakai sepatu futsal warna Hijau Stabilo (tahu hijau stabilo? itu lo warna hijau yang super JRENG dan kalau dilihat dari jarak 5 KM bisa kelihatan. hehhehe....) dan si Raisa tanpa menggunakan kerudung warna rambutnya terlihat kemerah-merahan (kami tidak tahu apa penyebabnya, apakah karena menggunakan pirang atau gara-gara dia tidak mandi? Pikir positif aja mungkin warna rambutnya sudah dari kecil gitu) baju kaos warna merah ketat, celana pensil yang juga ketat, dan menggunakan sendal jepit yang ada loncengnya.

Aku menundukan kepala dan berusaha menahan tertawa. Kulihat sahabatku juga melakukan hal yang sama.

Aku telah menemukan dua hal yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pertama, cewek dan cowok berjalan bersama menuju lapangan Dwiwarna, menggunakan pakaian santai adalah sesuatau yang sangat aneh. Mengingat malam itu akan diadakan "Habsyi dan Shalawat Bersama". Kedua, aku tidak melihat satu kembang api pun diatas langit.

Langit Kota Barabai malam itu bersih, penuh bintang. Ditambah dengan acara "Habsyi dan Shalawat Bersama" membuat lengkap keindahan Lapangan Dwiwarna, Kota Barabai pada malam itu.

                                                                    *****

"Kita duduk dimana Dil?" tanya Tsabit ketika kami baru sampai dilapangan Dwiwarna.

Kulihat rombongan Bapak Bupati juga baru saja sampai dilapangan Dwiwarna. "Tenang, ikuti aku. Separti bisa Bit, gunakan wajah menyakinkan kita."

Kami berjalan mengikuti rombongan Bapak Bupati dan berusaha agar berada tepat dibelakang Bapak Bupati.

Akhirnya kami bisa duduk santai sambil menikmati 'Habsyi dan Shalawat Bersama'.
Iseng-iseng ku tulis SMS yang isinya begini:

"Terima kasih banyak pak, karena malam ini telah melaksanakan kegiatan yang sangat positif dikabupaten Hulu Sungai Tengah." ku pilih no tujuan dan ku kirim.

Kulihat Bapak Bupati memegang handphone nya. Tiba-tiba ada pesan masuk di handphone ku, yang isinya "alhamdulillah"

Kadang hal-hal sederhana yang dilakukan oleh 'sang penguasa', akan sangat bernilai dimata 'sang rakyat jelata' seperti ku. Dan kadang, pujian dari 'sang rakyat jelata' akan sangat berharga dimata 'sang penguasa'.

Ting :)


AndinKiky. Bagian 1

Seperti yang kita ketahui bersama. Malam api unggun merupakan malam yang penuh suasana. Duka, ceria, susah, bahagia, gelisah, damai, senang, sedih, dan cinta. Semuanya bisa terjadi dan berasal dari api unggun yang sedang menyala. Apa lagi bagi anggota Pramuka. Disaat api mulai menyala, disana ada seni, tawa, dan cerita. Yang ditampilkan pada acara setiap satuan di pramuka. Dan, dari api unggun ini jualah lahir sebuah cerita cinta anggota Pramuka.

“Semua sekolah sudah tampil pentas seni, Jar?” Tanya Andin kepada Fajar yang saat itu jadi MC pentas seni api unggun.

“Sudah, dan kayaknya semua barang juga sudah dibawa deh sama Panitia Bidang Perlengkapan. Kata ka Ipul, kita sudah bisa beristirahat sekarang” Jawab Fajar sambil melihat ke arah jam tangannya yang menunjukan tepat pukul 23:00.

Andin mengacungkan jari jempolnya ke arah Fajar. “sip... semangat Jar, kamu istirahat aja duluan. Aku pengen menghangatkan tubuh dulu di depan api unggun.”

Mereka ber dua berpisah. Andin berjalan menuju api unggun. Disana dia melihat seorang wanita yang sudah duduk diatas matras sendirian menghadap ke arah api dan wanita itu juga memakai seragam pramuka sama seperti dirinya.

“Boleh aku ikut duduk?” tanya Andin sambil menoleh ingin mengetahui siapa wanita yang duduk disana.

“Ya, boleh... silahkan.” Kata wanita itu. Andin sangat mengenal suara dan wajah itu. Mereka sudah satu kelas selama lima tahun. Nama wanita itu Kiky.

Mereka bersampingan, Andin duduk disebelah kiri Kiky. Mereka berdua terdiam menikmati hangatnya api unggun.

Malam semakin larut. Langit semakin jelas terlihat. Karena sang awan sudah menepi diterpa angin laut. Bulan dan bintang-bintangpun bersinar lebih terang tanpa hambatan yang merenggut.

“Andin.” Suara Kiky memanggil nama Andin.

“Iya, ada apa?”

“Kamu bawa Handpone? Boleh pinjam?”

Andin mengeluarkan Handponenya dan menyerahkannya ke tangan Kiky. Kiky memfoto langit yang penuh bintang-bintang itu.

“Coba lihat Din” kata kiky sambil memperlihatkan hasil fotonya ke Andin. “Kalau kamu disuruh milih, kamu milih bintang yang mana?”

“Mungkin yang ini” Andin menunjuk ke arah satu bintang kecil dan paling redup dari bintang-bintang lain yang ada pada foto. “Kalau kamu juga disuruh milih, kamu milih bintang yang mana?”

Kiky menunjuk satu bintang paling terang dan dekat dengan bintang-bintang lain yang ada pada foto.

“Kenapa memilih bintang ini?” tanya Andin.

Kiky mulai menjelaskan. “Karena ku pikir, satu bintang paling terang itu merupakan bintang paling dekat denganku, yang tahu betapa banyak kekuranganku, yang paling tahu setiap sifat dan tingkah anehku, dan juga yang paling tahu bagaimana mengatasi sifat dan tingkah anehku itu.”
Andin tersenyum mendengar jawaban Kiky.

“Oh iya Din, kenapa kamu memilih bintang yang kecil dan redup ini?” Sambung Kiky.

Sambil menatap wajah Kiky yang kekuningan terkena cahaya api unggun, Andin mulai bercerita. “Dulu, sebelum kamu bertanya tentang bintang hari ini. Aku sudah pernah merenungkan dan memilih satu bintang diatas sana. Aku memilih bintang paling kecil dan paling redup dari bintang-bintang yang lain. Karena aku pikir bintang ini mewakili seseorang yang ku tahu setiap kekurangannya, yang ku tahu setiap sifat dan tingkah anehnya, dan juga yang ku tahu cara mengatasi setiap sifat dan tingkah anehnya itu. Selain itu, ku pikir bintang yang kecil dan redup itu hanya perlu didekati agar tampak terang dan jelas.”

Kiky menyandarkan kepalanya ke bahu kanan Andin. Malam yang gelap bersama cahaya bulan dan bintang-bintang menjadi saksi bisu bahwa didepan api unggun pada hari ini ada sepasang anggota Pramuka yang mencoba saling memahami perasaan satu sama lain.

Tanpa terasa tengah malam mulai bergerak kerah pagi. Andin berusaha agar bahunya tidak bergerak dan membuat Kiky terbangun dari tidurnya. Api unggun didepan mereka mulai meredup. Dan dingin sudah mulai menyelimut.

Perlahan-lahan Andin melepas baju pramukanya dan menyelimutkan bajunya itu ke tubuh Kiky. Hal seperti ini memang sudah sering terjadi di adegan-adegan filem, seorang laki-laki memakaikan baju atau jaketnya ke seorang wanita pasangannya. Lambang perlindungan dari seorang laki-laki untuk seorang wanita yang lembut, yang harus laki-laki jaga. Tapi bagaimana jika kamu yang melakukannya atau merasakannya sendiri? Pasti rasanya akan sangat berbeda.

Bersambung.... :)