Senin, 26 Oktober 2015

CERPEN (belum selsesai dan gak akan selesai) :)

Cinta?
Pernah kami satu ruangan ditanya apa itu cinta.
Semua orang menjawab dengan kata-kata dan cerita mereka masing-masing.

Aku hanya diam mendengarkan mereka
Sambil menulis cerita ini.

Tanpa terasa aku sudah memasuki Masa Muda, masa yang disebut Roma Irama sebagai, Masa Yang Api-Api... Bersama temanku yang lama ku kenal, tapi baru sekarang kami bertemu kembali disana. aku dan dia memberanikan diri untuk masuk sebuah Organisasai Siswa Intra Madrsah (OSIM) atau sering disebut juga OSIS. Dan alhamdulillah kami berdua lulus.

Nama temanku itu Fathullah, pertama kali kami bertemu ketika kami sama-sama mewakili sekolah kami untuk pergi Jambore Daerah dan Jambore Nasional. Keberuntungan dia yang selalu membuatku iri adalah ketampanannya yang kata semua orang sangat luar biasa, selain itu dia juga bisa beladiri silat dan dia hebat dalam bermian sepak bola. Cewek mana yang gak suka cowok seperti itu?
Sutau hari, ada satu orang cewek yang jika aku lewat selalau diperhatikannya. Sebagai cowok yang baru pertama kali mengalami hal seperti itu, tentu saja aku risih dan bingung. Aku sok cuek aja.


Hari pertama, kedua, ketiga dan ke empat akupun mulai penasaran. Siapa cewek itu? Akupun berusaha mencaritahu siapa dia. Setelah ku tahu namanya, entah mengapa gairah detektifku terpacu dan aku ingin tahu semuanya tentang dirinya.

Suatau malam, Aku mendapat no hand phone nya dan menghubunginya.

"Na..??" Tulisku lewat SMS. Beberapa menit kemudian dia ngebalas sms ku.

"Ini siapa?"

"pemuja rahasia. hehehe.." Tulisku sembarangan.

"Ini Aidil kan??"

"lo, kok kamu tahu?" Aku mulai heran.

"ya ialah tahu, aku kan hebat. hehehe.."

"...." SMS itu pun berlanjut dengan penuh perhatian, pengertian, kegembiraan dan
 kepercayaan kami bedua.

BERSAMBUNG...

Sabtu, 24 Oktober 2015

Debu

Setelah dipikirkan beberapakalipun...
Kamu tetaplah kamu
Kamu tetaplah kamu yang dulu
Menerbangkanku setinggi-tinginya
Dan menjatuhkanku sekuat-kuatnya...

Dari awal aku memang tak punya sayap
Sampai saat inipun belum

Aku hanya sebuah debu...
Entah itu sebuah pasir, ataupun hanya setitik besi
Jika kehidupan ku disakitkan dengan kehadiranmu dimasa lalu
Apa aku harus yakin bahwa kehidupanku dimasa depan denganmu juga sakit..??
Tak ada yang bisa menjawabnyakan?
Kecuali sebuah keyakinan yang kuat
Bahwa kamu adalah wanita yang baik
Dan parlu untuk ku diperjuangkan....
Walau kamu hanya membantah dan tak pernah berubah menjadi wanita yang sedemikian baik bagi semua orang itu...... :(

Kepergianmu?

Datanglah duka, yang membuatku layu
Indahnya kamu dulu
Adalah alasanku untuk menunggu
Namun apakah kamu adalah yang dulu.

Rindu inilah yang masih tersisa
Iingatan-ingatan kecil yang masih terasa
Zaman-zaman kebahagian kita
Kini kita tak bersama
Iringi harapan yang mungkin ada

kiri, dari atas turun bawah...

Rabu, 21 Oktober 2015

Datang dan Hilang

Akan datang hari setiap penyesalan akan hilang...
Tapi bukan sekarang....
Bukannya ingin berlarut-larut dengan kesedihan..
Tapi hanya dengan kesedihan yang dirasakan inilah, aku bisa belajar tentang pilihan...
"ketika kita memilih sesuatu, itu tandanya kita yakin dan siap menerima kegagalan tentang sesuatu tersebut...."
Yah... dikatakan seperti itu berapa kalipun. Tetap saja menyesal.... cry emotikon
Hingga akhirnya. Semua kisah dan kerja keras kita itu hanya bisa ditanggapi dengan kata "ohh..." dan dilupakan oleh kegembiraan saat ini, yang berasal dari kisah dan kerja keras orang-orang dimasa lalu itu...

Senin, 12 Oktober 2015

Untuk Diriku Dimasa Depan

Untuk diriku dimasa depan,
"Maaf" kaliamat inilah pembuka pertama untuk surat ini.
"Maaf" jika kamu sekarang sedang frustasi.
"Maaf" jika aku yang sekarang, tidak baik untuk diriku dimasa depan.

Sebenarnya aku benci menulis surat seperti ini untukmu.
Ini sama saja aku menyesali segala hal yang belum terjadi padaku, tetapi sudah terjadi padamu.
Tapi ku mohon jangan melimpahkan segala penelasalanmu itu padaku, kamu juga salah kan.???

Kamu harus mengingat bulan "september 2015" kerena dibulan inilah kalimat kamu 'inya ada haja jalannya..!!' tidak berguna.
Jika kamu sukses ketika membaca surat ini kamu akan tertawa. Namun sebalikya yang akan terjadi jika kamu gagal dan meratap.

Rahma Fitriana, masih ingat nama dan orang itu? yang fotonya kau pajang didalam lemari dan kau tambahkan tulisan konyol 'jika bukan kau, untuk apa ku berjuang?' ha.he.he... lebay...
Ingatlah masa lalumu. Ingatlah selalu dengan keyakinan yang kau bungkus dengan harapan, doa dan usaha... Ingatlah juga dengan usaha dan keberhasilan yang kau banggakan... Ingatlah juga janji mu yang konyol dan ditertawanakan oleh semua orang yang mendengar kau bicara tentang SFA.
Ingatlah orang-orang ini: Ayah, Ibu, Kaka, Ponakan, Uwa, Guru, Sahabat, Teman, Mama Adel serta orang-orang yang telah meremehkanmu dan impianmu.

"Maaf" kalimat inilah yang pantas untuk menutup surat ini.
"Maaf" aku tidak bertujuan seratus persen untuk menasehatimu, semua ini untuk aku yang sekarang.
"Maaf" jika kalimat ini terlalu panjang. Kamu harus ingat dengan segala hal yang harus kamu lakukan. Jangan malas. Terus kerjakan... kata Rayyan "SAKIT itu, bukan alasan tuk bermalas-malasan.." kata Adur "inya ada haja jalannya..!!" kata khiruddin "Siap-Siap..!!" kata bapa Saprul "mun sudah tacabur, haram ba bulik, tarusakan sampai ka hujung..!!" dan ingat kata-kata hatimu sendiri. "kalo manyasal...!!!"


Banjarmasin, Selasa 13 September 2015. Asrama 3 IAIN Antasari.

Rabu, 07 Oktober 2015

Kabut

Kamu mulai lenyap dari pandangan, bukan menghilang tapi disembunyikan.
Kusampaikan tulisan lewat angin, tapi angin tak kunjung muncul.
Kukabarkan keresahan lewat hujan, namun hujan tak pernah turun.
Wahai jiwa yang berkabut dan gersang.....

Ku nanti cahaya dari senyummu.
Tapi sekali lagi engkau disembunnyikan...
Ku nanti kesejukan dari tawamu.
Tapi sekali lagi engkau tidak dihadirkan...
Ku nanti warna dari hadirmu.
Tapi sekali lagi cahaya dan hujanmu tak disatukan...

Senin, 05 Oktober 2015

Melihat Dia yang Tidak Melihat, Dihiyanati.

Ada kalanya kebenaran sebesar apapun
harus disimpan,
Bukan karena tak cara
Atau bukan karena tak ada cinta...

Hanya saja hati dan logika ini terlalu
bertentangan.
Apa gunanya ku bicara,
kalau hanya tak dipercaya...
Apa gunanya ku bilang,
kalau hanya aku lah sang penghalang....